Saturday, August 24, 2019

Menjadi Orangtua Santri Zaman Now


Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim). Petuah indah tersebut hadir jauh sebelum adanya ilmu parenting yang sekarang sedang hits. Peran orangtua sangatlah penting untuk mencetak generasi Qur’ani. “Anak yang memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya cenderung memiliki kemampuan  untuk menginternalisasi nilai-nilai dan harapan orang tua  lebih baik dibanding dengan anak yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya” (Marchant et al. 2001).

Pesantren, merupakan lembaga pendidikan yang tepat untuk proses pembibitan generasi unggul. Kesuksesan tersebut akan tercapai dengan adanya peran aktif dari orangtua. Lantas, bagaimana menjadi orangtua santri zaman now? Berikut beberapa tips yang tentunya dapat dikembangkan lebih luas..

1. Triner
Biasanya, setiap pesantren memberikan waktu khusus yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan santri. Di sinilah, kesempatan emas bagi orangtua untuk memberikan wejangan hangat untuk buah hatinya. Nasihat yang mendorong agar mau berlatih menjadi pribadi mandiri, tangguh, dan giat. Beragam cara dapat dilakukan untuk melatih. Misal, dengan memberikan uang saku sesuai dengan kebutuhannya. Tidak berlebihan bertujuan supaya dapat belajar manejemen keuangan yang baik. Atau, memberinya lebih banyak dengan catatan sebagian harus ditabung untuk tujuan meraih impian.

2. Motivator
Sangat sayang jika kesempatan berkomunikasi dengan buah hati sekedar menanyakan keadaan fisik dan kantong saja. Hingga lupa untuk mengarahkannya meraih cita-cita. Betul, setiap hari pastilah ada motivasi istimewa dari ustadz-ustadz yang membimbingnya. Namun, se-shohih apapun dalil yang disampaikan para ustadz, tentu dorongan dari orangtua jauh lebih mengena di hati. Ajaklah buah hati untuk berpikir seperti arsitek. Membayangkan keindahan yang belum terjadi, sehingga dapat mengatur strategi agar bayangan itu dapat terjadi.

      3. Komunikasi Dengan Pengurus
Berbagai cara kini dapat dilakukan untuk menjalin komunikasi silaturahmi. Rugi rasanya, jika men-chat pembimbing sekedar meminta kiriman foto ter-update. Lebih rugi lagi, bilamana tidak mengenal sama sekali siapa pembimbingnya terkecuali hanya untuk kebutuhan izin saja.

Komunikasi yang baik dengan pengurus pesantren dapat berguna untuk mengambil langkah strategis untuk perkembangan santri. Juga agar terhindar dari info negatif yang tak berdasar alias hoax ataupun adu domba terhadap pihak pesantren ataupun pembimbing. Sebab, ada saja santri yang ingin keluar dengan cara memberikan kabar bohong kepada orangtua agar dirinya bisa dipindahkan.

Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata, “Tidaklah aku tidur sejak tiga puluh tahun, melainkan aku pasti mendoakan Imam As-Syafi’I dan meminta ampunan untuknya.” Patutlah kita belajar dari salah satu Imam besar yang menjadi panutan. Ia tidak sekedar membangun komunikasi yang baik terhadap gurunya saat gurunya masih ada.

4. Membangun Positif Thinking
Sandal hilang, Kalkulator Sains dipinjam tapi tak kembali, uang hilang, diledekin, dan lain sebagainya. Kenapa ini bisa terjadi? Ia, sebab tidak semua santri sudah berkarakterbaik namun setiap santri pastilah ingin berproses menjadi baik. Disinilah orangtua berperan penting untuk membangun pikiran positif kepada buah hati. bukan malah memperdalam masalah dengan ghibah terhadap pesantren, sehingga terlontarlah ujaran ‘Percuma Masuk Pesantren’.

Barang hilang bisa dibeli, spirit hilang sulit dicari. Membangun pikiran positif memang cukup sulit dilakukan, tetapi tidak mustahil untuk diusahakan. Bahkan, sekalipun sedang terkena kasus besar, orangtua sepatutnya membangun rasa percaya diri bahwa itu titik tolak untuk melakukan perubahan besar. Sehingga kelak bisa menjadi orang besar yang berjiwa besar.

5. TTS
Tahajud, Tilawah, Sedekah. Baiknya menjadi rutinitas harian orangtua santri zaman now. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan ini merupakan langkah mengetuk pintu langit agar beribadah tak sekedar formalitas menjalankan aturan pesantren, namun menjadi kebutuhan. Setinggi apapun keilmuan seorang ‘alim, tetaplah Allah yang dapat meneguhkan hati seseorang.


Inilah sebagian tips menjadi orangtua santri zaman now. Punya tips lainnya? Silahkan isi di kolom komentar.

Anwar Alwinanto
Penulis Buku Aku Calon Hafiz

No comments:

Post a Comment